Lima ribu rupiah yang mengubah Rahmat

Monday, February 20, 2012

Lima ribu rupiah yang mengubah Rahmat

Ini kisah tentang perubahan (positif) seorang lelaki Aceh, anak dari keluarga yang tergolong berada. Ayahnya pensiunan bankir, yang kini mengelola hotel di Medan.

Kisah begini, pada bagian sebelum dia berubah, tentu jauh dari bisa disamaratakan dengan remaja Aceh lainnya yang kuliah di Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Namun, kabar buruknya adalah saya kenal lebih dari satu orang Aceh yang perilakunya mirip.

[caption id="" align="alignnone" width="500" caption="Satu sisi uang kertas pecahan Rp5.000 tahun 2012"][/caption]

Untuk nama kawan itu, saya pinjam "Rahmat" sebagai nama samaran. Please, no hurt feeling to another "Rahmat" yang pernah saya kenal.

Saya baru dengar kisah itu tadi malam (Minggu, 19 Februari 2012) dari mulut Rahmat langsung, di warung kopi miliknya, di daerah Depok, Sleman. Rahmat menceritakannya tanpa saya minta. Padahal, kami baru kenal saat itu.

Kini, Rahmat sedang berjuang menuntaskan kuliah master di jurusan Hubungan Internasional di kampus negeri, di Sleman. Bagian cerita perubahannya itu terjadi sekitar 5 tahun lalu, pada beberapa semester akhir menjelang dia sudah harus lulus, dari kuliah sarjana di jurusan Ilmu Pemerintahan di kampus swasta, di Bantul.

Pada dua tahun pertama kuliah, Rahmat mengaku malas-malasan. Kampusnya di Kasihan, Bantul, namun dia pilih kos di sekitar Depok, Sleman. Pertimbangannya, agar lebih mudah berkumpul bersama kawan-kawan se-daerahnya yang lebih banyak tinggal di Depok.

Akibatnya, banyak waktu habis di jalan menuju kampus. Bahkan, biasa tidak ikut ujian, karena tidak bangun tidur, akibat dari asyik begadang malamnya.

Sekian banyak kegiatan ekstra kampus yang menarik dan produktif, tidak ada yang diikutinya. Dia lebih suka habiskan waktu berbincang-bincang dengan kawan se-daerahnya, yang kurang produktif.

Niat untuk berubah itu terjadi saat dia tengah berkunjung ke asrama Aceh untuk putra di kawasan Kota Baru, Yogyakarta. Seorang senior (dari segi umur), yang satu kampus dengannya, di asrama tersebut menghampiri untuk pinjam uang sebesar Rp5.000.

Rahmat penasaran, karena ini sangat tidak biasa. Baginya, pada tahun tersebut, seorang kawan biasanya pinjam uang dengan nilai Rp100.000 atau lebih. Itu pun jarang ditanyakan detil kebutuhannya. Jika hanya Rp5.000, yaaa mending minta saja, pasti direlakan. Namun, senior tersebut menekankan kata "pinjam", mungkin untuk menegaskan harga diri.

"Buat apa Bang", tanya Rahmat yang sungguh-sungguh penasaran, dengan nada halus.

Sang senior menceritakan detilnya. Rp2.000 untuk ongkos pulang pergi dengan bus angkutan umum, Rp500 untuk ongkos pulang pergi angkutan kampus, sisanya Rp2.500 untuk beli segelas es teh dan nasi bungkus. "Aku macam ditampar itu Bang," kata Rahmat padaku.

Rahmat mengaku malu dihadapkan dengan semangat senior itu. Yang dengan keadaan jauh lebih mampu dari senior tersebut, tapi malas-malasan kuliah. Sejak itu dia bertekad belajar lebih keras, lebih rajin. Akhirnya, Indeks Prestasi Kumulatif-nya yang pada beberapa semester awal berada di bawah dua, menjadi bisa di atas tiga.

You Might Also Like

9 comments

  1. cerita yang menarik, mas... aku terharu..

    *xixixi padahal fast reading*

    ReplyDelete
  2. wah untung aku udah lulus jadi gak perlu berjibaku dengan naik turun angkot lagi :D

    ReplyDelete
  3. Syukurlah Bang,
    Saya pun dulu sempat merasakan naik turun angkot selama satu tahun pertama kuliah.
    Salam.

    ReplyDelete
  4. terkadang kita tertampar sangat sakit dengan hal kecil..

    Nice story, salam untuk Rahmat :)

    ReplyDelete
  5. sukses buat rahmat dan kawan-kawan di Jogja :)

    ReplyDelete
  6. Sukses juga untukmu.
    Doakan saja Rahmat lekas lulus S2 dan bekerja :D

    ReplyDelete