Kabut Merapi

Sunday, November 11, 2012

Kabut Merapi

Kau butuh keberuntungan untuk bisa melihat kawah Gunung Merapi. Itu pelajaran yang kudapat tahun lalu. Pelajaran yang akhirnya kualami langsung saat mendaki Gunung Merapi pada hari Selasa dua minggu lalu (30/10/2012). Tentu saja, selain berbagai kesiapan fisik, psikis, dan peralatannya.

Sebelumnya, pelajaran itu kudapat dari informasi kawan-kawan, yang mendaki sebelum aku, dan setelah aku, pada akhir Oktober 2011. Mereka tak dapat gambar kawah Gunung Merapi karena terselimut kabut, sementara aku bisa. Betapa beruntungnya.

Dua minggu lalu, aku mulai mendaki Gunung Merapi pada Senin malam, bersama seorang kawan relawan pemantau Merapi, Deni Wahyu (seorang relawan yang legendaris dan kerap dicari karena punya informasi berharga). Kami mulai dari New Selo sekitar pukul 22.00 WIB.

[caption id="" align="alignnone" width="546"] Kawah Gunung Merapi 2011[/caption]

Menurut kalender yang kuacu, Bali, malam itu purnama, dan benar. Cahaya berlimpah, beberapa kali senter kumatikan, saat melintasi daerah yang cukup terbuka. Angin cukup bersahabat. Awan mendung cuma sesekali datang menutup bulan. Perjalanan tanpa kabut malam itu.

Tiga jam perjalanan, kabut mulai tampak sekitar 500 meter berada di bawah kami. Perlahan-lahan naik, namun tak sampai mencapai kami. Dua jam kemudian kami sampai di daerah pos 2, dan tidur.

Kami baru bangun sekitar 05.30 WIB. Setelah sarapan, dan berkemas, baru melanjutkan perjalanan sekitar 06.30 WIB. Kabut sudah tampak menutupi daerah puncak Merapi.

Akhirnya kami berpapasan dengan rombongan lain, sebelumnya tidak. Mereka dalam perjalanan turun. Dua orang Jawa, dan 5 manca negara.

Satu jam kemudian tiba di Pasar Bubrah, yang merupakan bentangan landai terakhir sebelum mendaki ke puncak yang kemiringannya 30, derajat selama satu jam. Kabut di daerah puncak Merapi bergeming. Sementara di Pasar Bubrah, angin agak kencang membawa kabut.

[caption id="" align="alignnone" width="500"] Deni Wahyu di Pasar Bubrah dengan latar belakang jalan menuju puncak Merapi, 2012[/caption]

Kami di Pasar Bubrah selama 45 menit, lalu turun. Tak ada perubahan kuantitas kabut. Percuma payah-payah tiba di puncak, tapi hanya putih pekat yang terlihat. Kami tiba di New Selo 13.30 WIB.

Kami mampir di rumah kawan relawan pemantau Merapi, Mujianto di Selo. Wajib, karena kami pinjam senter dia sebelum berangkat.

Mujianto paham kondisi Gunung Merapi terkini. Dia naik ke puncak sebulan sekali dan mengambil gambar video, dan foto. Jadi wajar, kalau Mujianto sering dikutip oleh media massa yang tak mau keluar biaya untuk kirim orang ke puncak Merapi, tentang kondisi Merapi terkini.

Mujianto menunjukkan beberapa foto dan video Merapi terakhir yang diambilnya. Menakjubkan perkembangannya.

Menurut Mujianto, kabut di puncak Merapi tak bisa diprediksi. Jadi, meski kau tiba di puncak pukul 05.00 WIB, bisa saja tetap tertutup kabut. Aku jadi tak menyesal tiba di Pasar Bubrah kesiangan, hehe.

Kami turun ke Yogyakarta pukul 16.00 WIB.

You Might Also Like

1 comments