Kasmito Maharaja

Sunday, October 13, 2013

Kasmito Maharaja 

“Krek, krek, krek” ... suara dari grinder tangan memenuhi ruangan seluas 30 meter persegi yang memajang berbagai peralatan coffee shop.

“Mau buat coffee shop?”, tanya lelaki berpakaian kasual yang sedang memutar grinder tersebut.

“Enggak Koh, buat sendiri aja”, kataku, yang sedang melihat-lihat pajangan.

Tiga menit kemudian.

“Ini cobain. Buat satu sama buat tiga sama saja (payahnya, mungkin?)”, katanya sembari meletakkan dua cangkir keramik kopi di meja.

Aku melongo.



[caption id="attachment_826" align="alignnone" width="653"]IMG-20131012-WA0037 Aku di Toko Maharaja Coffee.
Foto: Putro Setyo Negoro[/caption]

“Wah, terima kasih Koh,” kataku.

“Kebetulan belum ngopi dari pagi. Itu ada kuenya juga, silakan,” katanya, kemudian berlalu ke ruangan lain.

Aku dan Putro mencicipi kopi tersebut. Kami berdua sumringah, nyengir. Kopi tersebut meninggalkan rasa kesegaran—penikmat kopi ‘serius’ biasa menyebutnya after taste—buah kopi yang mewah di tenggorokan. Di perjalanan pulang meninggalkan toko tersebut, beberapa kali kami masih membahas, betapa beruntungnya kami hari itu, Sabtu, 12 Oktober 2013.

Saat pembayaran, kepada Farenti, perempuan yang melayani pembelian, aku tanya, siapa nama lelaki (yang tampaknya keturunan Cina) yang menyajikan kopi buat kami tadi. Farenti menjawab, Kasmito. Aku tak bertanya lebih lanjut. Kami pulang.

Hari itu, kami membeli grinder tangan di Toko Maharaja Coffee. Cukup terkenal di kalangan penikmat kopi sebagai importir berbagai peralatan coffee shop, dan pemasok biji kopi bermutu dari berbagai daerah. Rasanya terbalas setimpal, satu jam perjalanan pergi pulang kami, bersepeda motor di siang yang terik.

Tokonya menempati jajaran ruko sederhana. Aku tanya lokasinya ke warga sekitar, karena telah habis kami susuri jalannya dan tak menemukan. Rupanya memang tanpa papan nama. Seperti yang tertera di website, alamatnya di Jalan Melawan, Mangga Dua Selatan, Jakarta Pusat.

Kami sepakat berharap, semoga dalam kunjungan berikutnya, entah untuk membeli apa, bisa berjumpa lagi dengan kondisi Kasmito yang sama: belum ngopi dari pagi :D

You Might Also Like

4 comments

  1. Beruntungnya hari itu. :D

    ReplyDelete
  2. Pengalaman yang menyenangkan ya, bang.

    Berarti mulai sekarang, sudah prefer beli biji kopi nih, ketimbang beli kopi bubuk :D

    Pengen seperti itu juga sih, tapi aku takutnya orang rumah nyeduh biji kopi langsung :))

    ReplyDelete